International Reserves: Precautionary versus Mercantilist Views, Theory and Evidence by J. Aizenman and J. Lee

12 11 2009

Tema:

Cadangan Devisa Negara-negara Berkembang

Masalah:

Krisis keuangan memicu pemerintah  untuk melakukan perdagangan internasioal, sehingga negara memiliki cadangan devisa untuk mengcegah terjadinya kelangkaan terhadap barang-barang pemenuh kebutuhan.

Tujuan:

  • Mengukur kepentingan relative dari pandangan-pandangan alternative yang menjelaskan akumulasi cadangan internasional
  • Pemodelan permintaan  precautionary untuk  cadangan devisa yang memperlihatkan itu sebagai asuransi diri terhadap kontraksi output yang mahal yang disebabkan oleh pemberhentian tiba-tiba dan pelarian modal.

Metodologi

  • Sampel dan data:

Pada tahun 1997-1998 teradi krisis I Asia Timur yang menyebabkan perubahan mendalam dalam cadangan internasional dan dari tahun ke tahun cadangan devisa terseut semakin meningkat.

Pada tahun 1994 terjadi krisis 1994 yang memaksa pasar untuk mengharapkan krisis yang sama terjadi di Amerika Latin, sebagian besar negara-negara Asia Timur dipandangan kuran rentan terhadap bahaya yang terkait dengan “uang panas” ini.

  • Model penelitian: Jurnal ini menggunakan metode penelitian pengembangan social dikembangkan berdasarkan survey yang dilakukan secara berkala

Analisis:

Peningkatan drastis akumulasi devisa di negara-negara Asia Timur yang terjadi pada akhir tahun 1990an dsebabkan oleh Merkantilist Motives dan Precautionary Motives.

Mercantilist motives memicu pemerintah untuk melakukan intervensi yang sangat agresif untuk menjaga daya saing perdagangan yang dapat meningkatkan akumulasi cadanan devisa negara yang begitu dasyat. Berawal dari intervensi dari pemerintah, kemudian intervensi ini akan melemahkan nilai mata uang negara, sehingga kuantiti perdagangan akan meningkat, misalnya kurs mata uang rupiah pada awal bulan $1 = Rp 10.000 dan harga pokok penjualan suatu barang sebesar Rp 100.000,00. Dengan demikian barang tersebut akan dijual di luar negeri sebesar $10, dengan intervensi yang dilakukan pemerintah, nilai tukar rupiah melemah menjadi $1 = Rp 15.000,00. Dengan demikian, harga pokok penjualan untuk barang tadi di luar negeri akan turun menjadi $6,3 dengan harga yang sama (Rp 100.000,00) di tanah air. Melihat penurunan harga tersebut, konsumen akan lebih tertarik untuk membeli barang tersebut. Hal tersebut akan meningkatkan penjualan perusahaan tersebut. Dengan peningkatan kuantiti perdagangan tersebut, berarti cadangan devisa negara pun akan meningkat.

Sedangkan precautionary memicu pemerintah untuk meningkat cadangan devisa negara sebagai proteksi diri terhadap krisis yang terjadi. Krisis yang terjadi di Asia Timur, yaitu cadangan devisa kurang dari hutang jangka pendek. Untuk itu, diperlukan strategi untuk proteksi diri, di antaranya adalah meningkatkan cadangan devisa, mengganti hutang jangka pendek yang likuid menjadi hutang angka pendek yang tidak likuid, dan menstabilkan hutang  jangka panjang, baik pada saat tidak krisis dan pada saat krisis.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: